Beranda » Pesantren » Editorial (Tajuk Rencana) Pesantren Al-Khoirot

Editorial (Tajuk Rencana) Pesantren Al-Khoirot

Pesantren Al-Khoirot Kecam Rencana Sertifikasi Ulama

4 (empat) Editorial (Tajuk Rencana) Pesantren Al-Khoirot pada bulan September 2012

Salah satu personil BNPT atau Badan Nasional Pemberantasan Terorisme bernama Irfan Idris mengusulkan adanya sertifikasi ustadz laupun lulusan pondok pesantren, sebagai salah satu upaya pencegahan terorisme.

DAFTAR ISI

  1. Editorial 11 September 2012: Sertifikasi Ulama
  2. Editorial 15 September 2012: Kecam Film Innocence of Muslims
  3. Editorial 21 September 2012: Rohis dan Terorisme
  4. Editorial 28 September 2012: Stop Tawuran Pelajar


TOLAK SERTIFIKASI ULAMA

Kami menganggap pernyataan ini sebagai statemen yang tidak bertanggung jawab dan memicu kontroversi yang tidak diperlukan. Alih-alih memecahkan masalah, rencana ini kalau jadi dilaksanakan akan memicu gelombang perlawanan dari kalangan ulama khususnya dari kyai yang berbasis pesantren. Wacana ini kalau diimplementasikan akan merubah secara signifikan peta hubungan ulama-umara (pemerintah).

Kami menyarankan kepada pemerintah agar prosedur pengangkatan pejabat BNPT tidak hanya didasarkan pada kualifikasi kepangkatan militer/polri, tapi juga memperhatikan kualitas wawasan yang bersangkutan terhadap Islam dan seberapa dekat hubungan mereka dengan para ulama pesantren dan tokoh-tokoh Islam di luar pesantren seperti da’i, ustadz, mubaligh, dan lain-lain .

Wawasan keislaman, khususnya Islam Indonesia, diperlukan supaya pejabat BNPT dapat memetakan dengan jelas heterogenitas ulama dan pesantren. Antara yang moderat, tradisional, konservatif, liberal dan radikal. Dan itu bisa dicapai dengan mudah kalau pejabat BNPT rajin berkomunikasi dengan para ulama. Kemampuan membaca peta ulama dan pesantren di Indonesia ini akan mempermudah dan mensimplifikasi tugas BNPT dalam memerangi terorisme dan yang terpenting menghindari kontroversi yang tidak perlu.

Pondok Pesantren Al-Khoirot membuka pintu lebar-lebar kepada kalangan pejabat BNPT, TNI dan Polri yang ingin berkonsultasi akan berbagai hal menyangkut pesantren, Islam dan muslim.

Kami menghimbau agar pejabat BNPT dan siapapun dari lingkungan pemerintah ke depan agar berhati-hati dalam mengeluarkan stamenen yang terkait dengan Islam, santri, ulama dan ustadz. Perlu diketahui, bahwa umat Islam akar rumput umumnya berada di bawah bimbingan dan patron para ulama pesantren. Mereka akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh patron mereka.

Oleh karena itu, pemberantasan terorisme di Indonesia akan menjadi mudah apabila BNPT bekerja sama aktif dengan kalangan ulama dan pesantren.

Taktik dan strategi deradikalisasi hendaknya dilakukan berdasarkan konsep lokal Indonesia, bukan berdasar pada teori yang dikirim atau ditiru dari luar di mana umat Islam menjadi minoritas.[]

Email contact: alkhoirot@gmail.com atau info@alkhoirot.com


KECAM FILM INNOCENCE OF MUSLIMS

Ponpes Al-Khoirot Kecam Film Innocence of Muslims

Editorial Pondok Pesantren Al-Khoirot, 15 September 2012

Pondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang mengecam keras beredarnya film Innocence of Muslims yang berisi penghinaan dan fitnah keji terhadap Nabi Muhammad. Nabi Muhammad adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam dan kerena itu menghina Rasulullah sama dengan menghina Islam itiu sendiri sebagai agama dan umat Islam sebagai pemeluknya.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Islam adalah agama yang paling disalahpahami dan dibenci di dunia Barat yang beragama Nasrani (Kristen, Protestan, dll), atheist atau agnostik. Kesalahpahaman itu–hasil rekayayasan ratusan tahun atau karena kemasabodohan– terjadi sejak lama dan memiliki akar sejarah permusuhan politis dan ideologis yang cukup lama.

Sejak perang Salib di Abad Pertengahan, era kolonialisme Eropa atas negara-negara Islam di abad ke-18 sampai 20, pihak Barat khususnya Eropa selalu berusaha untuk mendiskreditkan Islam dan ajarannya melalui berbagai cara. Dari cara yang halus dan “ilmiah” melalui penelitian dan riset mendalam para intelektual Barat yang disebut Orientalis sampai cara yang kasar dan murahan.

Pada masa abad ke-21 ini di mana tampuk kepemimpinan dan hegemoni Barat dipegang Amerika, kampanye anti-Islam lebih sering disuarakan di Amerika. Umumnya, kampanye anti Islam di Amerika dilakukan dengan relatif lebih “halus” melalui institusi riset dan kajian ilmiah dan merasuk ke dalam lembaga pemerintahan seperti FBI, departemen dalam negeri, dan lain-lain. Kampanye anti-Islam melalu cara-cara kasar seperti
film Innocence of Muslims dan pembakaran Quran oleh pendeta Kristen bernama Terry Zones sebenarnya bukan fenomena mainstream.

Apapun caranya, umat Islam patut memberi respons tegas dan memberi pes`n yang tidak ambigu: bahwa usaha penistaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad tidak akan membuat Islam jatuh dan terhina. Sebaliknya, Islam akan semakin jaya dan lebih kuat dari sebelumnya. Begitu juga, dengan menghina Nabi Muhammad dan Islam, tidak akan membuat agama pihak yang menghina menjadi mulia.

Kita juga menghimbau kepada Google Youtube bahwa pemuatan film yang mengandung kebencian adalah bertentangan dengan TOS (terms of service) Google. Dan hendaknya Google konsisten dengan aturan yang dibuatnya dengan menutup atau menghapus film tersebut dari Youtube.

Bagi kalangan Kristen yang masih memiliki common sense dan ingin melihat koeksistensi antar agama berlanjut, kita memerlukan suara mereka agar mengecam setiap penistaan terhadap Islam agar kita tahu bahwa umat Islam yang moderat memiliki kawan moderat yang bersuara dan memiliki tujuan yang sama yakni menuju tercapainya koeksistensi dan perdamaian antar umat beragama menjadi lebih baik dan terjaga. Jangan biarkan kalangan ekstrim dan radikal mendominasi dunia.

Kami menghimbau kepada umat Islam agar tidak mudah terpancing dengan langkah provokasi dari mereka yang anti-Islam. Buktikan pada dunia, bahwa umat Islam adalah cinta damai dan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.[]


METRO TV, ROHIS DAN TERORISME

Metro TV, Rohis dan Terorisme

Editorial Pondok Pesantren Al-Khoirot 21 September 2012

Entah dengan tujuan apa, Metro TV dalam salah satu acara dialog ‘Awas Generasi Baru Teroris’ pada Sabtu (15/9) lalu ada penyebutan Rohis (Rohani Masjid) dan mengaitkannya dengan terorisme.

Dalam klarifikasinya, pihak Metro TV mengaku dalam acara tersebut tidak menyebutkan organisasi Rohis. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan rekaman yang dimiliki KPI yang menunjukkan adanya penyebutan Rohis yang diucapkan salah seorang narasumber.

“Kalau kata Rohis, ada (dalam rekaman milik KPI) yang diucapkan narasumber,” kata Nina Mutmainnah yang dihubungi Republika pada Senin (17/9).

Hingga Senin (17/9) ini, KPI telah menerima sebanyak 8.040 pengaduan terkait acara dialog yang mengkaitkan organisasi Rohis di sekolah-sekolah dengan terorisme di Indonesia (Republike, 17/9).

Terakhir, KPI menerima laporan dari Ikatan Rohis se-Jabotabek dan Indonesia Media Watch.

Theglobejournal.com (19/9) memberitakan ratusan mahasiswa membawa spanduk, kertas dan karangan papan bunga dukacita dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Rabu .

Mereka juga menaburkan bunga di papan bunga yang bertuliskan “Turut berdukacita atas matinya etika jurnalistik oleh Metro TV”. Aksi tersebut merupakan ungkapan rasa kekecewaan mereka terhadap pemberitaan Stasiun Televisi Metro (Metro TV) yang dinilai gegabah dan kurang bertanggung jawab dalam berita yang menyebut Rohani Islam (Rohis) sarang teroris.

***

Apa yang ini kita sampaikan pada Metro TV adalah agar ia berhati-hati dalam menyiarkan sesuatu yang bersifat SARA apalagi agama Islam. Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Hindari stereotyping, profiling, prejudice dan generalisation baik pada umat Islam atau pada lembaga Islam tertentu seperti Rohis, pesantren, Remas (remaja masjid), dan lain-lain.

Kita sangat menganjurkan agar Metro TV memiliki penasihat atau konsultan khusus terkait dengan Islam dan umat Islam yang tahu persis apa masalah sensitif yang sebaiknya tidak dibahas atau disebut agar Metro TV yang menjadi pelopor kanal TV berkualitas tetap eksis dan mencerdaskan pemirsanya.[]


STOP TAWURAN PELAJAR

Tawuran Pelajar

Editorial Pesantren Al-Khoirot: Stop Tawuran Antar Pelajar

Tawuran antar-pelajar bukan hanya marak terjadi, tapi juga mengalami peningkatan. Taraf konflik juga meningkat dalam arti korban yang mati karena tawuran tersebut.

Yang terbaru adalah tawuran pelajar SMA 6 melawan SMA 70. Tempo edisi 24 September melaporkan:

Tawuran antara siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 6 dan SMAN 70 di bundaran Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2012, menyebabkan seorang siswa SMA 6 tewas.

Menurut Kepala Reserse Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan, siswa SMA 70 menyerang lebih dulu ke siswa SMA 6. Siang pukul 12.00, kata dia, murid-murid SMA 6 baru keluar dari sekolah. “Mereka baru habis ujian,” kata Hermawan, Senin, 24 September 2012.

Tawuran pelajar yang terjadi sejak dulu sampai sekarang pantas menjadi keprihatinan bukan hanya kalangan pendidik, dan orang tua tapi juga kita bersama seluruh elemen bangsa yang peduli ingin melihat bangsa ini maju di masa depan.

Tawuran antarpelajar terjadi karena banyak hal antara lain kurang baiknya manajemen pendidikan di sekolah terkait, kurangnya pengawasan orang tua, kurangnya pendidikan agama. Semua itu dapat disimpulkan dalam satu kata: kurang kondusifnya lingkungan.

Sekolah memang berbeda dengan pondok pesantren di mana peserta didik yaitu santri mendapat pendidikan dan pengawasan 24 jam sehari dari pengurus, ustadz dan pengasuh pesantren. Sementara dalam sistem pendidikan sekolah, ada gap yang lebar saat siswa berada di luar pengawasan guru dan orang tua. Yakni ketika siswa tidak berada di kelas tapi belum pulang ke rumah. Di saat seperti inilah tawuran itu terjadi.

Namun, tanpa pengawasan pun semestinya tawuran tak perlu terjadi kalau tidak ada nilai-nilai buruk yang telah mempengaruhi mereka. Nilai-nilai negatif itu dapat berupa paradigma yang salah dalam menilai apa yang baik dan buruk. Di sinilah perlunya penanaman nilai-nilai agama akan berperan cukup penting apabila ditanamkan secara konsisten, berkelanjutan dan sungguh-sungguh baik oleh pendidik maupun oleh orang tua.

Pondok Pesantren Al-Khoirot ikut prihatin atas fenomena yang tidak sehat ini. Bangsa dan negara Indonesia tercinta membutuhkan generasi muda yang berprestasi dalam berbagai bidang: bidang keilmuan maupun perilaku. Dan itu tidak dapat dicapai apabila waktu dan energi hanya habis untuk tawuran.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: