Beranda »

Tak Mau Kritik, Tak Berhak Dipuji

Sat, 16 Apr 2005

Oleh Mario Gagho

Halle Berry (baca, halei beri) artis peraih Oscar dan
tampil seksi di film James Bond ‘Die Another Day’ pada
tahun 2004 mendapat piala Razzie Award. Kalau piala
Oscar sebagai tanda apresiasi atas actingnya yg sangat
baik, sebaliknya piala Razzie Award diberikan karena
actingya di film ‘Cat Woman’ sangat buruk. Singkatnya,
Halle Berry mendapat penghargaan sebagai pemain
terburuk di film itu.

Razzie Award ini sudah berlangsung selama empat tahun,
dan patut dicatat Halle Berry adalah bintang Hollywood
pertama yang datang langsung ke tempat pemberian
penghargaan. Aktor dan artis sebelumnya tak pernah mau
datang ke tempat penghargaan dan cukup memberikan
pesan melalui video.

Menarik dicatat adalah kata sambutannya waktu menerima
penghargaan sebagai artis terburuk itu.

“Saya menerima penghargaan ini dg tulus hati. Saya
menganggap ini sebagai kritik bagi saya untuk tampil
lebih baik di filem-filem saya berikutnya. Saya masih
ingat pesan ibu saya bahwa ‘Kamu tidak berhak dipuji
kalau kamu tidak bisa menerima kritikan’.”

Pidato sambutan Halle Berry itu disambut dg tepukan
dan standing ovation dari para hadirin. Bukan hanya
hadirin yg salut, saya sendiri tercengang dan takjub.
Acara yg tadi malam (16/4/05) ditayang ulang di sebuah
stasiun tv itu mengingatkan saya pada diri saya
sendiri, teman-teman saya, pejabat-pejabat dan bangsa
Indonesia umumnya yg sangat sulit menerima kritik
secara lapang dada seperti Halle Berry.

Kita memang mesti banyak belajar dan membuka hati
untuk menampung kritik. Menerima kritik memang tidak
semudah menerima pujian. Tapi, pujian dan apresiasi
tak akan pernah datang apabila kita tidak melakukan
sesuatu yg berharga yg patut diapresiasi.

Dalam situasi stagnan dan jumud seperti itu, hanya
kritik yg akan membuat kita bangkit dan memperbaiki
diri. Apabila sudah demikian, pujian dan apresiasi
akan datang pada waktunya.

Sebaliknya, apabila kita menutup hati dan telinga dari
kritik, maka stagnansi, kejumudan dan kenaifan gerak
dan pikir akan semakin meningkat dan berlipat ganda.
Dan pada saat kita mulai menyadarinya, segalanya sudah
terlambat. Dan penyesalan demi penyesalan akan
memenuhi rongga hati dan mulut kita.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: