Beranda »

Sportif dalam Hidup

Sun, 03 Apr 2005

Oleh Mario Gagho

Walaupun saya tidak pernah main tennis–karena
lapangan tennis kbri dikuasai oleh Qisai, dkk– saya
termasuk suka nonton siaran pertandingan tennis di TV.
Salah satu yg saya kagumi dalam tradisi tennis adalah
sikap sportifnya yg khas. Sebagai contoh, ketika bola
menyangkut di net namun tetap berhasil masuk ke
kawasan lawan, si pemukul bola bukannya terkesan
senang, tapi malah meminta maaf.

Ini artinya, walaupun dia berhasil mendapatkan poin,
tapi dia tidak bangga karena poin itu dia dapat secara
kebetulan. Seorang sportman sejati tidak ingin
mendapatkan kemenangan dari hal yg kebetulan. Mereka
percaya bahwa kemenangan yg memuaskan dalam sebuah
kompetisi adalah kemenangan yg dicapai dg kerja keras,
bukan oleh faktor luck atau untung-untungan. Karena,
mencapai keberhasilan yg dihasilkan dg faktor
keberuntungan adalah ciri tipikal jiwa pemalas dan
bodoh; dan itu bukanlah ciri khas seorang olahragawan
yg sportif.

Dalam hidup tidaklah begitu berbeda. Tradisi sportif
semacam itu selalu menjadi bagian inheren yg melekat
pada kalangan pekerja keras yg selalu mengandalkan
sebuah keberhasilan dari kerja kerasnya. Orang-orang
semacam ini ketika berhasil akan bersyukur dan
bergembira; namun tidak terlalu berlebihan. Karena dia
tahu, prestasi belajar atau kerjanya itu sudah layak
dia peroleh atas dasar hasil kerja kerasnya selama
ini.

Bangsa Indonesia, saya dan Anda, secara umum adalah
kalangan pemalas. Kita selalu bermimpi mencapai
prestasi tinggi, berhasil dalam karir, menjadi orang
besar, dll; namun pada waktu yg sama kita tidak
melakukan the unwritten rule hukum alam: bahwa untuk
berhasil dalam kuliah harus rajin belajar; bahwa untuk
berhasil dalam karir harus dicapai dg dedikasi dan
kerja keras serta kreatifitas tinggi serta kapabilitas
mumpuni.

Karena keengganan kita mengikuti aturan hukum alam
tsb., maka terjadilah berbagai jalan pintas untuk
mencapai keberhasilan: dengan KKN, dengan bermimpi dan
berdoa (bagi mahasiswa), dengan pergi ke dukun-dukun
sakti bagi pejabat, dll. Bagi kalangan wanita karir yg
ambisius tapi tak pintar, tidak sedikit dari mereka yg
rela mengorbankan tubuhnya untuk mencapai ambisi
karirnya.

Sungguh indah kalau kita mencapai prestasi tinggi dan
sukses di bidang apapun yg kita inginkan dg kerja
keras dan belajar keras; bukan dg bermimpi dan
mengharapkan dewi keberuntungan mendatangi kita.

Karena bangsa ini memerlukan generasi yg memiliki
tradisi hidup sportif untuk bisa lepas dari keterpurukannya.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: