Beranda »

Mitos Teror Bunuh Diri

Suara Karya, 30 Desember 2003

Oleh A Fatih Syuhud

Pada 23 Oktober 1983, dua ledakan dahsyat telah
menghancurkan barak militer AS (Amerika Serikat) dan
Prancis di Beirut yang saat itu menjadi kontingen
penjaga perdamaian multinasional PBB (Perserikatan
Bangsa Bangsa) di Lebanon, menewaskan 241 kontingen AS
dan 58 utusan perdamaian Prancis. Apa yang menyebabkan
peristiwa itu berbeda dan unik adalah bahwa bom itu
diledakkan oleh kalangan ekstremis yang ikut terbunuh
dalam proses peledakan itu. Hizbullah, yang
bertanggung jawab atas ledakan itu, bermaksud untuk
mengusir pasukan-pasukan asing ini dari Lebanon dan
mereka berhasil.

Akan tetapi, bom-bom yang menghancurkan Kedutaan AS di
Kenya dan Tanzania pada 1998, yang menewaskan 300
orang, dan serangan ke Gedung WTC New York pada 11
September 2001 yang menewaskan 3.000 lebih warga
sipil, sama sekali tidak dimaksudkan untuk tujuan
jangka pendek. Mereka tampaknya menjadi bagian dari
disain yang lebih besar, yang dimotivasi oleh kalangan
Islamis radikal yang, menurut hasil penyelidikan akhir
oleh FBI dan CIA, berasal dari Saudi Arabia dan Mesir.
Ada sejumlah jawaban singkat dan mudah atas pertanyaan
mengapa mereka melakukan itu semua. Dan, jawaban
termudah adalah ini pasti ada hubungannya dengan
Islam, mengingat para pelakunya yang kesemuanya
beragama Islam.

Namun demikian, jawaban singkat di atas tidaklah dapat
dibuat alat tunggal untuk menjelaskan trend terorisme
bunuh diri yang marak pada dekade terakhir. Karena,
sampai saat ini pelaku bom bunuh diri yang paling
mematikan dan paling banyak memakan korban nyawa
justru dilakukan oleh suku Tamil di Jaffna, Sri Lanka,
yang notabene beragama Hindu, pengikut setia gerakan
separatis Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE).

Spirit dan semangat mereka timbul dari sikap loyal dan
ketundukan pada pemimpin tertinggi LTTE, Velupillai
Pirabhakaran dengan indoktrinasi dan kultus bunuh diri
yang dia ciptakan dalam rangka mencapai perjuangan
menuju kemerdekaan. Sebagai ilustrasi, antara tahun
1983-2000, mereka telah melakukan serangan bunuh diri
lebih dari 170 kali, jauh lebih banyak dari jumlah
gabungan serangan bunuh diri yang pernah dilakukan
oleh Hizbullah, Hamas dan Islamic Jihad.

Kelompok-kelompok Islam radikal tampak mempunyai
agenda yang bervariasi. Osama bin Laden dan Ayman
Al-Zawahiri, berasal dari latar belakang kelas
menengah dan tentunya tidak dapat mengklaim bahwa
keduanya, keluarga mereka atau bangsa mereka telah
dizalimi oleh AS. Mereka menganggap diri mereka
sebagai seorang penyelamat (messiah) yang sedang
berperang melawan sebuah pola hidup (a way of life)
yang diwakili oleh Amerika.

Sebagian kelompok lain yang menggunakan taktik
serangan bunuh diri juga mengatakan bahwa mereka
melakukannya dalam rangka membela kepentingan Umat
Islam yang tertindas. Di antara kelompok-kelompok ini
adalah gerakan Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Muhammad
yang bermarkas di Pakistan, serta Jamaah Islamiyah di
Asia Tenggara. Kendatipun begitu, ketiga kelompok ini
juga memiliki link dengan Osama bin Laden dan
menyepakati ideologi varian dari pan-Islamisme-nya
Al-Qaida yang radikal.

Usaha Hamas dalam menentang proses perdamaian dengan
taktik serangan bunuh diri bermula pada tahun 1992.
Tetapi, kampanye itu mencapai tahap yang mematikan
setelah kekalahan Shimon Peres pada Pemilu 1996 dan
runtuhnya proses Perdamaian Oslo.

Dengan determinasi mereka yang kuat untuk mengorbankan
nyawa sendiri, teroris bunuh diri sangatlah sulit
dicegah. Dan, elemen yang lebih mengkhawatirkan dari
taktik mereka adalah mereka diduga tidak ragu-ragu
untuk membunuh warga sipil, termasuk wanita dan
anak-anak. Kelompok militan seperti Hamas bahkan
diduga secara sengaja mentarget anak-anak. Dengan kata
lain, mereka juga dapat dikatakan sebagai senjata
penghancur massal yang dibenci dunia modern karena
paradigma dominan saat ini adalah tidak ada satu pun
negara atau militer yang beradab yang secara sengaja
mentarget warga sipil.

Bunuh diri dalam masyarakat, kecuali bila ia
berkonotasi ritual, seperti di Jepang, pada dasarnya
sebuah tindakan yang sangat personal. Tidak demikian
halnya bunuh diri yang dilakukan oleh kalangan
teroris. Sebab, mereka merupakan bagian akhir dari
sebuah jalinan rantai yang berujung pada seorang
pemimpin ‘penyelamat’. Operator kuncinya adalah
seorang motivator yang berfungsi sebagai pencari bakat
dan memanipulasi anggota baru dengan propaganda agama
dan lain-lain.

Di Pakistan, biasanya operator kunci tersebut adalah
kalangan mullah (ulama tradisional) di masjid-masjid
dan madrasah di kawasan kota-kota yang padat dan
kasbas di Punjab, Pakistan. Sementara dalam kasus
LTTE, operator kuncinya adalah seorang komandan atau
mentor yang dihormati.

Langkah Pencegahan

Sebagaimana pada penanggulangan penyakit, langkah
preventif akan lebih baik daripada mengobati.
Pertahanan terbaik melawan terorisme adalah mencegah
orang-orang untuk menjadi teroris. Menurut Scott
Atran, seorang antropolog dan psikolog, seperti
dikutip Jason Burke (Al-Qaeda: Casting a Shadow of
Terror, 2003) para pelaku bom bunuh diri itu “bukanlah
para pengecut gila yang bergelut dalam kemiskinan dan
kesengsaraan hidup”. Dia mengatakan bahwa tidak ada
psikopatologi khusus dari seorang pelaku bom bunuh
diri.

Tetapi, beberapa analis lain menunjukkan bahwa
motivasi kunci bagi pelaku bom bunuh diri adalah untuk
menambah gengsi “kesyahidan” (martyrdom) yang
dianugerahkan pada keluarga mereka. Kelompok LTTE,
Lashkar-e-Taiba, Jaish-e-Muhammad dan Hamas memiliki
kultus syahid ini, dan keluarga mereka yang tewas
dalam operasi semacam itu akan dihormati dan
mendapatkan dukungan finansial. Masyakarat yang hendak
mencegah terjadinya terorisme semacam itu harus dapat
menanggulangi sebuah psikopatologi massa yang
mengagungkan berbagai bentuk “kesyahidan” seperti itu.

Salah satu cara untuk melakukan langkah preventif
adalah dengan melihat secara imparsial isu-isu yang
akan, sedang dan telah menciptakan satu rasa
ketertindasan dan kemarahan – pendudukan tanah
Palestina oleh Israel, alienasi bangsa Kurdi oleh
Turki dan kebijakan sovinisme suku Sinhala yang
mengundang kemarahan suku Tamil di Sri Lanka serta
opresi Rusia atas Chechnya.

Dalam kasus pejuang separatis Kashmir di India,
masalahnya sedikit berbeda, karena kalangan militan
Kashmir belum pernah melakukan terorisme bunuh diri,
kecuali satu kasus yang dilakukan oleh seorang anak
yang baru berusia 14 tahun. Kebanyakan para pelaku
teror di Kashmir adalah warga negara Pakistan, yang
dimanipulasi oleh motivator mereka untuk menyerang
target-target India guna “membalas dendam atas
penghinaan” yang dilakukan terhadap saudara seagama
mereka – rakyat Kashmir.

Akan tetapi, terdapat bahaya yang semakin meningkat
pasca terjadinya pembunuhan massal terhadap umat Islam
Gujarat yang dilakukan oleh Hindu fanatik dan radikal
yang sedang berkuasa di negara bagian tempat kelahiran
Mahatma Gandhi itu. Terjadinya pengeboman kembar di
pusat kota industri Mumbai (dahulu Bombay) pada 25
Agustus yang menewaskan 50 orang lebih itu, menurut
salah satu pelaku yang tertangkap, adalah dalam rangka
membalas dendam atas pembunuhan Muslim di Gujarat.

Bagian tersulit dan kompleks dalam penanganan teror
bunuh diri adalah mengatasi organisasi radikal seperti
Al-Qaida. Tujuan dari organisasi ini, menurut Rohan
Gunaratna dalam bukunya Inside Al Qaeda: Global
Network of Terror (London: 2002), adalah mengajak
dunia menuju surga impian yang terletak dalam
supremasi interpretasi ajaran Islam versi mereka. Akar
dari organisasi ini berada dalam otokrasi konservatif
Timur Tengah yang menanamkan sikap kemarahan umum
terhadap pola hidup modernisme yang diwakili oleh
Amerika, plus rasa kemarahan yang digeneralisir
terhadap Israel dukungan AS yang mereka anggap sangat
menghina.

Usaha demokratisasi terhadap masyarakat semacam itu
merupakan tugas berat, tetapi mentransformasi mereka
dengan cara yang sama seperti ketika Kristen Eropa
disekulerkan akan jauh lebih sulit lagi.

Apa pun kasusnya, ini merupakan sebuah proyek yang
membutuhkan pemikiran, otak dan sensitivitas lebih
dibanding apa yang tampak sudah dilakukan oleh Amerika
untuk memerangi terorisme global dengan cara
menginvasi dan menduduki Irak. ***

(Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik,
Agra University, India).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: