Beranda »

Mengapa Tak Suka India?

Tue, 19 Apr

Oleh Mario Gagho

Akhirnya Pakistan berhasil menumpas tim kriket India
dg skor meyakinkan 4-2 pada Minggu (17/4/05). Saat
wicket (batsman) terakhir India keluar Minggu sore itu
oleh bowling akurat Shahid Afridi, saya dapat
membayangkan senyum lebar penuh ‘kepuasan’ tersungging
dari mulut Asnadi, mahasiswa Ilmu Politik Agra dan
pakar kriket kita. Mengapa Asnadi senang? Apakah
karena Pakistan adalah tim favoritnya? Jawabnya, iya.
Tapi lebih dari itu, Asnadi bahagia setiap melihat
India “menderita” kekalahan! Seperti juga Izam merasa
senang ketika melihat Sania Mirza, pemain tenis putri
unggulan India, kalah tanding. Waktu saya tanya kenapa
senang? Jawabnya, “Supaya tak tambah besar kepala
orang India ini!”

Asnadi dan Izam tidak sendirian. Hampir kebanyakan
kita yg di India, terutama mahasiswa, tidak suka semua
yg berbau India: bau badannya, sikap menipu landlord,
sikap arogannya pada kita yg selalu menyebut kita dg
“Nepali hain?”–suatu istilah pelecehan rasis yg hanya
bisa ditemui di India, penipuan tukang rikshaw,
auto-rikshaw; you name it.

Karena kekesalan yg kecil-kecil itu terjadi secara
konsisten, maka ia terakumulasi dalam bentuk kebencian
mendalam yg merasuk ke otak bawah sadar kita. Dan
kebencian itu kemudian terwujud dalam bentuknya yg
lain: merasa bahagia kalau orang atau bangsa yg kita
benci mengalami “musibah”, kegagalan atau kesedihan;
walaupun kita sebagai manusia terkadang pandai
menyembunyikannya.

Mengapa orang India umumnya punya sikap inheren yang
tidak menyenangkan, bukanlah maksud utama saya menulis
kolom refleksi ini. Biarlah itu urusan mereka. Yang
lebih mendesak kita kaji adalah mengapa kita mudah
membenci pada orang atau komunitas tertentu?

Hal pertama yg tampaknya menonjol dalam karakter kita,
bangsa Indonesia, adalah kita sebagai bangsa tidak
atau kurang fleksibel. Infleksibilitas kita pada
gilirannya membuat kita selalu mengharap orang atau
komunitas lain untuk “memberi” lebih dahulu sebelum
kita melakukan hal yg sama. Apabila itu tidak terjadi,
maka kita akan menjauh.

Kedua, mental yg lemah. Pada umumnya kita memiliki
sikap mental yg lemah. Mental lemah selalu
mengharapkan “keramahtamahan” dari orang lain dan
sangat sensitif pada sikap yg berkesan “keras, kasar
dan tidak menyenangkan”. Ini membuat kita tidak mampu
“menaklukkan” dunia yg wataknya rata-rata “lebih kuat”
dari yg kita punya. Sudah menjadi konvensi umum bahwa
pribadi yg kuat akan “menguasai” yg lemah. Dalam
konteks domestik (baca, Indonesia) itu juga menjadi
jawaban mengapa Medan lebih didominasi orang Batak.
Dan mengapa Jakarta didominasi oleh Bugis, Batak dan
Madura. Dalam konteks global, itu yg menjadi jawaban
mengapa Barat, India dan Cina mendominasi dunia:
karena bangsa-bangsa ini lebih kuat kepribadiannya,
dan karena itu dapat “menundukkan” pribadi-pribadi
lemah di sekitarnya.

Dampak Negatif

Salah satu dampak negatif dari individu dan bangsa yg
lemah pribadinya adalah ketidakmampuan menyerap kultur
positif dari bangsa lain. Dalam konteks kita di India,
keengganan kita bergaul dg orang India plus kesukaan
kita “kumpul kebo” dg sesama bangsa (kata orang jawa
“mangan gak mangan asal ngumpul”) membuat kita tidak
bisa menguasai bahasa India (Hindi, Urdu, Punjabi,
dll). Bahasa-bahasa India semestinya dapat kita kuasai
tanpa harus ikut kursus; namun itu tidak terjadi. Dan
ini menjadi fenomena khas mahasiswa India. Terus
terang, saya malu ketika bertemu dg teman-teman
Jepang, Arab, Bule yg tinggal di India di atas tiga
tahun rata-rata menguasai lebih dari satu bahasa
India; sedang saya tak satupun bahasa lokal yg saya
kuasai.

Now, let’s bygone be bygone. Yg lalu biarlah berlalu.
Buat rekan-rekan yg baru datang, be flexible.
Bergaullah dg orang India. At the same time, be alert!***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: