Beranda »

Kesenioran, Kesarjanaan dan Jabatan Kita

Sun, 27 Jun 2004

Oleh Mario Gagho

Sedikitnya ada tiga hal yang kalau kita tidak bijak
dalam menyikapinya akan menghambat laju perkembangan
dan progresifitas kita, khususnya progresifitias
keilmuan, skill dan kepribadian. Yaitu, kesenioran,
gelar kesarjanaan, dan jabatan kita.

Kesenioran dalam konteks mahasiswa di India bermakna
lamanya tinggal di India dan “banyaknya” usia yg sudah
dilewati. Dalam konteks birokrat berkaitan dg hirarki
senioritas dalam jabatan dan posisi yg dipegang.
Sedang kesarjanaan dan jabatan tentu kita sudah
maklumi maksudnya.

Ketiga unsur di atas sering membuat kita terlena dan
terhanyut oleh perasaan superior dan unggul yg
sebenarnya sering tak lebih dari sekedar fatamorgana
yg artifisial. Tidak riil. Dan sering menggiring kita
ke dalam perasaan aneh yg sebenarnya tidak perlu dan
malah menyesatkan: pola pikir kita jadi sering
terbuai, terbebani dan dipenuhi dg sikap gengsi,
“martabat”, harga diri dan arogansi.

Senioritas

Konvensi atau definisi tradisional kuno menyebutkan
bahwa yg dimaksud dg senior adalah orang yg lebih tua
dalam segi usia (dan dg demikian dianggap banyak
pengalaman dan lebih bijak). Definisi lama ini saya
anggap sudah lapuk dan tak perlu membebani mindset
otak kita. Benar, pengalaman yg banyak memang akan
membawa kita pada sikap yg lebih bijak. Tetapi itu
berlaku bagi “orang2 yg mau belajar dari pengalaman
itu”. Di sini, intinya yg dihargai dari seorang senior
adalah “sikapnya yg bijak” bukan kesenioran itu
sendiri. Dg kata lain, siapapun yg bersikap bijaksana,
kreatif dan memiliki visi ke depan lebih maju, baik
itu yunior atau senior bahkan anak kecil sekalipun,
patutlah mendapat respek yg sewajarnya di bidang di
mana dia lebih mampu dari kita. Inilah esensi dari
kesenioran.

Dengan kata lain, definisi kesenioran adalah mereka yg
memiliki kemampuan (skill), visi ke depan,
progresifitas dan sikap bijak (wisdom) yg lebih dari
kita dalam bidang2 tertentu. Tanpa perlu memandang
kepada usia atau jabatan yg dia pegang.

Sebaliknya, walaupun kita senior dalam berbagai
bidang: jabatan, gelar kesarjanaan maupun usia, tapi
kalau tidak memenuhi esensi di atas, maka
berlapangdadalah untuk memberi jalan pada yg lebih
mampu, dan bersikaplah besar hati untuk belajar dari
mereka pada bidang di mana mereka lebih mampu dari
kita.

Gelar Kesarjanaan

Saat ini rekan2 di India sedang bergembira karena
telah berhasil lulus dalam ujian akhir. Baik gelar S1
(B.A), S2 (M.A, M.Com, M.Th, dll), dan S3 (Ph.D).
Tentu saja wajar, kalau kelulusan itu disyukuri dan
disambut dg gembira. Ibarat kita naik gunung, kita
telah berhasil mencapai “puncak”. Akan tetapi dalam
konteks kesarjanaan, satu hal yg perlu diingat, bahwa
dalam dunia keilmuan yg namanya “puncak” itu bukan
hanya satu tapi banyak sekali. Dan kita hanya berhasil
mencapai salah satu puncak gunung ilmu itu. Dan ini
mesti kita sadari betul dg penuh rasa rendah hati.
Seorang yg mencapai gelar S2 atau S3 dibidang sastra
Arab misalnya, maka dia adalah “pakar” di bidang
sastra dan budaya Arab tapi dia tak lebih dari “anak
TK” di bidang lain. Saya yg mengambil jurusan politik
boleh dibilang “pakar” di bidang politik, tapi saya
betul2 “masih TK” di bidang sastra Arab, sastra
Inggris apalagi ilmu komputer dan ekonomi, dll.

Dengan pola pikir semacam ini, maka kita tidak perlu
pongah dan arogan karena kita telah lulus S2 (“master
boy..!” kata beben) atau telah selesai Ph.D.
Sebaliknya, dg menyadari keterbatasan gelar2 kita itu,
kita masih bisa terus belajar dg rekan2 dari jurusan
lain atas ilmu/skill yg tidak kita miliki. Saya ingin
belajar mengaji lagi pada Ustadz Mukhlis Zamzami, MA
(sastra Arab), saya masih ingin belajar ttg keislaman
pada Zamhasari (B.A. Islamic Studies), saya juga ingin
belajar hardware komputer pada Juber Marbun alias
Michael Stellar (B.A Komputer) dan memperdalam skill
bahasa Inggris saya pada Malik Sarumpaet (M.A.
English). Dan belajar menulis artikel pada kolumnis
dan redaktur situs Pesantren Virtual yaitu Rizqon
Khamami. Serta belajar real-politik administrasi
negara pada Bapak-bapak di KBRI yg jelas lebih mampu
di bidang ini. Sebaliknya, saya juga siap membantu
siapa saja yg membutuhkan kemampuan saya.

Tidak ada beban pikiran dan rasa gengsi dalam hati
untuk belajar apa yg tidak atau kurang saya ketahui
pada rekan2 yg usianya lebih muda dari saya. Karena
memang saya menyadari betul bahwa gelar strata S2 saya
cuma terbatas pada satu bidang dan saya betul2 bodoh
di bidang lain. Saya ingin menjadi manusia modern yg
selalu haus belajar pada siapa saja yg mampu dan mau
mengajari saya, tanpa mesti ada beban faktor usia,
ketinggian gelar atau jabatan.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Flickr Photos

%d blogger menyukai ini: